|
Pesta Akbar 'Kuwe'
Oleh Indra P (indra@kreatif.com)
11 October 98
Sejak pertama kali saya membaca tentang lokasi mancing
di desa Binuangeun, yang katanya surga yang belum tersentuh, saya
langsung merasa tertantang untuk mencoba. Cita-cita ini akhirnya terpenuhi
sabtu lalu, setelah sebelumnya saya melakukan survey terdahulu ke
lokasi minggu sebelumnya. Jumat itu, kami berempat berangkat sore
hari langsung menuju ke vila muara kangen tempat kami menginap di
Binuangeun. Perjalanan yang memakan waktu 3 jam dari Jakarta ini membuat
kami sudah merasa mengantuk pada jam 11 malam, sehingga kami semua
memutuskan untuk tidur dan bangun pagi pagi hari sekali.
Jam 5 pagi kami semua sudah terjaga. Seperti biasa,
penyakit pemancing apabila hendak pergi memancing, pasti sulit untuk
tidur. Pak Hasyim, sang manager vila menyuguhkan kami dengan menu
pagi nasi goreng seadanya, tetapi terasa sangat nikmat setelah perut
yang dari semalam sangat kosong. Jam 6:30 saya dan Pak Beni pergi
dengan kapten kapal yang kami sewa ke TPI (Tempat Pelelangan Ikan)
disebelah vila untuk membeli umpan. Lucunya kalau di jakarta kita
terbiasa dengan umpan cumi, di Binuangeun umpan yang dipakai adalah
tongkol. "Wah, kalau di Jakarta mah tongkol mending dibuat rica-rica
dibanding umpan" kata saya ke Pak Beni. Setelah membeli 5 ekor tongkol
ukuran sekilo, dan beberapa kantong plastik ikan tembang kami kembali
ke vila untuk selanjutnya memulai perjalanan mancing kami pada tepat
pukul 7 pagi. Lokasi troling yang pertama kami tuju adalah pulau Tinjil.
Di pulau yang hanya berjarak 30 menit dengan kapal ini selama 5 jam
kami hanya mendapat 2 ekor tengiri ukuran 3 - 5 kilo. Perjalanan selanjutnya
kami tuju adalah pulau Dili yang memakan waktu 2 jam troling dari
pulau Tinjil. Dalam perjalanan ini teman saya, George sempat mengangkat
Barakuda seberat 6 kg. Hebatnya, ini adalah ikan troling pertama bagi
dia, tetapi ikan tersebut nyangkut di pancing saya yang sengaja saya
pasang kenur 8 kg. kontan saja ia merasa sangat lemas setelah 25 menit
fight dengan barakuda yang memang terkenal lumayan perlawanannya.
Saya memang sengaja memasang satu perangkat kenur kecil dalam perjalanan
troling kali ini, untuk membuktikan kebenaran pakar2 pemancing yang
bercerita bahwa mengangkat ikan dengan kenur kecil serasa mengangkat
marlin dengan kenur 60 kg. Sekitar jam 3 sore, pacar saya yang mendapat
giliran mengangkat pancing berikutnya berhasil menaikan seekor kuwe,
yang sayangnya ukurannya kecil, sekitar 3 kg dengan kenur 25 kg. kontan
saja ikannya 'pasrah' tanpa perlawanan. Beberapa menit kemudian, pak
Beni yang gilirannya sudah sampai, mendapat strike seekor mahi mahi.
Behubung ini juga merupakan saat pertama pak Beni bertroling, maka
saya harus membantu dia untuk mengajar ikan. Ikan yang rasanya berat
sekali itu, ternyata seekor mahi mahi kecil ukuran 4 kg tetapi terpancing
di badan sehingga terasa seperti ikan 50 kg. Sampai pukul 5 sore keadaan
masih belum berubah. kami sudah merasa pasrah apabila perjalanan kali
ini tidak memuaskan, karena ikan yang terpancing ukurannya kecil2
dan kurang perlawanan.
Pesta Kuwe
Setelah bosan berputar2 disekitar pulau Dili, sang
kapten mengajak kami menjajal karang impress sekalian mencari lokasi
mancing dasar untuk istirahat malam hari. merasa tidak ada pilihan
lain, kami pun menurut saja ketika diajak ke karang yang berjarak
sekitar 30 menit troling diantara pulau Dili dan Tinjil ini. Matahari
yang mulai
memerah membuat kami sudah yakin akan kecewa, bahkan pacar saya sudah
menyarankan agar semua kenur digulung ketika tiba tiba reel shimano
50W LRS dengan umpan rapala dan kenur 25 kg berteriak sangat keras
selama beberapa menit diikuti dengan bunyi reel Penn International
II dengan kenur 15 kgdi sebelahnya hanya berjarak beberapa detik.
DUBLE STRIKE! Kontan saja saya yang kebetulan mendapat giliran, loncat
dari kursi saya langsung menyambar reel Penn yang terletak di depan
saya. Pacar saya juga langsung menarik joran dengan reel shimano disebelah
kiri saya. Perjuangan kali ini benar benar berlangsung sangat seru
karena keadaan mendadak 'rusuh' dikapal. Saya yakin kali ini ikan
yang memakan umpan minimal berbobot 7kg - 15 kg melihat lamanya waktu
kenur di penn reel ini berbunyi sebelum akhirnya ikan diam. Tanpa
membuang waktu lagi langsun saya memompa joran. Fight yang memakan
waktu 8 menit itu diakhiri dengan terangkatnya kuwe lilin seberat
sekitar 8 kg. Pacar saya yang baru 2 kali selama hidupnya memompa
joran troling membutuhkan waktu 15 menit sebelum akhirnya kuwe seberat
sekitar 9 kg naik keatas kapal. Melihat burung2 yang beterbangan disekitar
kapal, kami yakin masih banyak kuwe dibawah kami. Sang kapten yang
jeli langsung memutar kapal, dan kamipun langsung memasang umpan rapala
kami kembali di kedua joran yang memang sudah siap. Seorang anak buah
kapal nekad memasang rapala di pancing tangan dengan kenur 80 lbs.
Saya pikir gila kali, kalau disentak ikan kan bisa luka tangan. Benar
saja, baru 5 menit kapal memutar langsung kedua joran bersama2 kembali
berbunyi. Kedua rekan saya yang mendapat giliran langsung ambil posisi
dan mulai memompa. Baru saja kedua rekan saya ini memompa, tali kenur
yang dipegang anak buah kapal tersentak sangat kuat, menandakan ikan
terpancing. setelah agak diam, pancing tangan itu diberikan ke pacar
saya untuk ditarik. Ketiga ikan berhasil diangkat, yang semuanya adalah
kuwe dengan berat seputar 10 kg. Yang bikin kami kaget setengah mati
adalah melihat rombongan kuwe yang berlarian dibawah kami ketika ikan2
yang terpancing mulai mendekat. Jumlahnya ratusan!!! dan semua dengan
ukuran yang sama 5 kg - 20kg. Pak Beni yang terkaget2 langsung menyambar
ganco untuk di 'gancokan' ke rombongan. Tetapi tentu saja tidak bisa
:) Meliha ikan2 yang masih berseliweran disekitar kapal, saya langsung
ambil joran dasar saya, saya pasang umpan plugs untuk casting.
Tetapi sangking terburu buru lemparan itu bukannya jauh, malah jatuh
pas di sebelah saya, ternyata masih terkunci reelnya. ketika saya
mencoba untuk menggulung umpan untuk dilempar kembali, umpan yang
berjarak hanya 1 meter di depan kapal itu tiba tiba disambar kuwe
yang langsung menarik kebawah. Gile bener! Saya baru ingat bahwa drag
yang saya pasang di joran ini belum saya kurangi, sehingga hanya dalam
waktu 2 detik joran melengkung kebawah kapal, 'tar' putus sudah benang
10 kg saya, termasuk dengan plugnya. Keadaan yang penuh chaos tersebut
ternyata pintar dimanfaatkan oleh sang anak buah kapal yang kemudian
mengajak rekan saya George untuk lari kedepan kapal dan memancing
dengan pancing gulung dan umpan tembang. Mereka berdua ternyata benar,
baru umpan diturunkan 1/2 jalan, sudah disambar kuwe lagi. Bahkan
George mendapat 2 kuwe di kedua mata pancingnya, hal ini bisa ketauan
karena kenur kadang ditarik ke kiri, eh tiba tiba bisa ditarik ke
kanan oleh dua tenaga yang berbeda. Kenur yang satu akhirnya putus
sehingga hanya satu kuwe yang bisa dinaikkan. Anak buah kapal yang
juga memancing di depan juga berhasil menaikkan kuwenya, yang ternyata
sampai saat itu paling berat diantara semua kuwe yang terangkat, sekitar
10-11 kg. Sayang chaos kuwe itu hanya berlangsung sangat cepat, dan
tiba tiba menghilang. kami yang masing2 sedang panik sendiri karena
bingung mau ngapain akhirnya termangu2 walaupun dilantai kapal sudah
bergeletakan 45 kg lebih kuwe hanya dalam waktu kurang dari 45 menit.
Yang sangat saya sesalkan adalah kenapa saya melupakan chumming.
Padahal kalau saja chumming dilakukan pada saat itu saya yakin ikan2
kuwe yang sangat kelaparan itu masih bisa ditahan disekitar kapal
minimal 30 menit lagi, dan kami bisa dapat lebih banyak kuwe. Tapi
apa mau dikata, ikan2 tersebut sudah menghilang dan matahari pun sudah
tengelam. Akhirnya kami menginap di tempat itu sambil memancing dasar
yang menghasilkan berbagai macam ikan dari kerapu lodi, kapas-kapas,
lencam, pakol, sampai kuwe kecil.
Pagi harinya, kami sebenarnya sudah sangat puas dengan
hasil yang didapat dan berpikir untuk troling sambil
pulang. Baru saja 45 menit berjalan, reel shimano kembali menjerit,
sayang putus ditengah jalan sebelum sempat diajar oleh pak Beni. Kami
rasa seekor tengiri yang menyambar. Ketika kami melanjutkan troling,
kami kembali melihat chaos kuwe yang kemarin malam, langsung saja
sang kapten tancap gas menuju ke tempat chaos. Saat ini saya sudah
siap. Langsung saya ambil joran dengan kenur 8 kg saya yang kemarin
sore sempat kusut sesudah mengangkat barakuda dan baru pagi pagi tadi
di bereskan kembali. Saya pasang rapala no 11 warna merah putih, dan
saya taruh di center, tepat diantara ke dua joran lain dengan kenur
lebih besar. Walaupun saat itu giliran Pak Beni, saya katakan bahwa
kalau yang kena kenur kecil, biar saya yang mencoba. Benar saja, tanpa
harus menunggu lama-lama, kenur 8kg itu berbunyi nyaring dari reel
'okuma' tanda tersangkutnya ikan. Secara hati-hati saya pindahkan
joran ke kursi ajar dan saya tunggu sampai ikan berhenti menarik.
Mengingat kecilnya kenur dan ini adalah pengalaman pertama saya di
kenur 8 kg, maka saya bertindak sangat hati hati. Drak saya kendorkan
perlahan lahan agar tidak putus. ketika ikan sudah berhenti menarik,
perlahan lahan drag saya naikkan dan mulai memompa. Saat itu saya
baru merasakan apa yang selama ini para pakar memancing katakan bahwa
'kenur kecil itu nikmat'. Jorang yang biasanya saya bisa pompa sampai
posisi saya tertidur kebelakang, saat itu hanya bisa terangkat maksimal
90 derajat. Dan perlawanan ikan? Bukan main. Seru sekali! Setelah
fight yang memakan waktu 20 menit itu berakhir, saya berhasil mengangkat
seekor ikan kuwe yang terbesar diantara hasil pancingan selama 1,5
hari perjalanan itu. Sang anak buah kapal memperkirakan bobot ikan
berkisar antara 12 - 13 kg. Wah, ini mungkin bisa rekor untuk kelas
kuwe gerong kenur 8kg! Saya langsung memutuskan untuk berfoto dan
menimbang ikan di darat seperti yang di minta oleh FORMASI apabila
ingin menyampaikan rekor. terus terang saya belum pernah manyampaikan
rekor, maka saya hanya mengira2 apa2 yang dibutuhkan. Saya menjadi
sangan kecewa ketika perjalanan pulang ke Binuangeun, saya tertidur,
dan dalam perjalanan pulang itu, anak buah kapal dengan maksud baiknya
membersihkan isi perut semua ikan yang tertangkap. Supaya jangan busuk
katanya. Lha gimana mo jadi rekor??? Tambah kesal lagi ketika sampai
rumah saya lihat majalah mancing terbaru, dan saya lihat daftar rekor
kuwe ternyata untuk kuwe batu, kelas kenur 8 kg masih kosong. Untuk
kuwe gerong, kelas kenur 8 kg memiliki rekor nusantara 8,3kg oleh
bpk Dih Sen, tercatat dari Kr. Bongkok tanggal 23 Agustus 97. Untuk
kuwe sirip biru, rekor kelas kenur 8 kg adalah 3 kg. Artinya, walaupun
saya belum tahu secara pasti jenis kuwe saya yang saya dapat ini (walaupun
feeling saya adalah gerong seperti yang dikatakan oleh sang anak buah
kapal) tapi dengan berat yang oleh sang anak buah kapal diperkirakan
antara 12 - 13 kg sudah pasti saya bisa mendapat peluang mencatat
rekor nusantara formasi. Yah! sungguh sayang :(
Tiada pesta tanpa perpisahan, maka pesta kuwe kamipun
diakhiri pukul 10 pagi ketika kami sudah merasa lebih dari cukup atas
semua hasil yang didapat. Kami pikir untuk apa lebih banyak lagi ikan
kalau cool box yang saya bawa dari rumah ukuran extra large itu tidak
bisa cukup lagi menampung seluruh ikan yang ada. (akhirnya memang
saya harus beli extra plastik untuk menampung kelebihan ikan yang
nggak muat lagi). Yang pasti sesampainya di jakarta saya pusing bagi2
ikan yang kata orang2 rumah dan tetangga yang menerima ikan 'Buset
ini mending dijual aja lagi'. he..he.. soalnya total berat ikan diperkirakan
lebih dari 80 kg. artinya kalo pukul rata 1 kg Rp 10.000 maka harusnya
kalo dijual bisa dapet Rp 800.000.. weleh..weleh...
STRIKE!!!!
|